Welcome to Aryadventure, moga-moga dapat meng-influence semangat Nature Lover di kehidupan kita. . !

Sabtu, 04 Februari 2012

Keharmonisan Bahari dan Kearifan Lokal di Bulukumba


“Sulawesi Selatan saja, deal?”, itulah awal mula kesepakatan saya dan Brigita untuk menghabiskan liburan di Sulawesi Selatan. Sulawesi merupakan tempat yang cocok untuk dijadikan pilihan untuk berlibur, apalagi berlibur ala backpacker yang menggunakan budget minimum namun semua tempat dapat dijangkau. Tempat sasaran kami bukan merupakan tempat wisata yang ramai, namun tempat  yang memiliki potensi alam serta kearifan lokal yang masih sepi dan jauh dari keramaian. 

Propinsi Sulawesi Selatan sebagian besar terdiri atas pegunungan. Tidak heran jika terdapat lima puncak tertinggi yang sangat terkenal seperti Puncak Gunung Bawakaraeng, Puncak Rante Mario Latimojong, Puncak Gunung Balease, Puncak Gunung Sesean, dan Puncak Gunung Bambapuang. “Pantas saja di Sulawesi jalan daratnya masih kurang dan tidak ada kereta api”, kataku kepada Brigita. 

Kota Bulukumba merupakan kota kecil yang berada di wilayah dari Kabupaten Bulukumba yang cukup luas.  Kami memutuskan untuk ke daerah Bulukumba karena memiliki spot-spot yang menarik untuk dikunjungi,  seperti pantai Tanjung Bira, desa Tana Beru tempat pembuatan perahu Pinisi, dan Desa Tana Towa dimana terdapat suku Kajang. 

Untuk mencapai Kabupaten Bulukumba dari kota Makasar ditempuh sekitar kurang lebih 200 km. Jarak yang sangat jauh dengan melewati beberapa kabupaten seperti kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng. Estimasi waktu perjalanan sekitar 5 jam sehingga kami berangkat sekitar pukul 10 pagi. “Jangan sampai kalian lewat  saat malam hari karena di sana masih banyak perampok yang membawa parang”, begitu peringatan dari bang Mula, senior dari Korpala Universitas Hasanudin.  Kami yang ditemani oleh Arie, Enoz, Ade, dan Leon dari Korpala Unhas pergi menggunakan motor. Jalan yang tak kunjung habisnya melewati empat kabupaten terasa sangat panjang dan melelahkan. Apalagi jalanannya masih banyak yang berlubang, sempit, dan tidak rata. Truk-truk besar pun hilir mudik melewati jalanan sempit itu. Namun rasa bosan di perjalanan tergantikan dengan rasa kagum saat melihat langit biru di atas, pegunungan yang gagah berdiri di sebelah kiri, dan laut dengan gradasi hijau dan biru di sebelah kanan. Ketiga elemen langit, gunung, dan laut itu membentuk pemandangan yang harmonis untuk pengantar perjalanan. 

Ternyata perjalanan kami molor hingga dua jam. Perjalanan yang seharusnya dapat tiba sekitar pukul tiga sore ternyata sampai pada pukul lima sore. Rencana awal untuk dapat menikmati sunset di Pantai Tanjung Bira pupus sudah. Namun dapat tergantikan oleh sunset di pantai yang berada di desa Tana Beru, pusat pengrajin perahu Pinisi di Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari,  Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan.

 Kami terkagum-kagum saat berjalan menyusuri desa tersebut. Di sinilah tempat dibuatnya perahu Pinisi yang gagah dan melegenda. Tidak heran jika sejak kecil kita diajarkan lagu “Nenek moyangku seorang pelaut” karena memang benar adanya. Perahu Pinisi dibuat oleh suku Bugis sejak berabad-abad yang lalu. Para pelaut jaman dahulu memanfaatkan layar yang tertiup angin untuk menggerakkan Pinisi serta sangat handal dalam ilmu navigasi dengan memanfaatkan rasi bintang. Sehingga tidak heran jika Pinisi dapat mencetak sejarah berkeliling dunia dengan kesederhanaannya itu. Di desa ini lah saya melihat masyarakat yang sebagian besar dari suku Bugis piawai dalam membuat perahu. Pengrajin kapal di desa Tana Beru membuat kapal dengan teknologi yang diturunkan secara turun temurun. Namun sayang sekali saat itu tidak ada perahu Pinisi yang sedang dibuat. Hal ini karena Pinisi dibuat jika ada pesanan saja. Harga Pinisi sangat mahal sekitar 3 miliar, sehingga tidak heran jika yang memesan biasanya berasal dari luar negeri. 

Sore itu kami bertemu dengan salah seorang pengrajin yang kita panggil Pak Haji yang berusia 87 tahun. Pak Haji dulu saat muda telah menjelajah nusantara dengan perahu yang dia buat, bahkan hingga Jepang. Kita pun menikmati senja sore hari sambil bercengkrama dengan pak Haji yang bercerita mengenai kehebatan perahu Pinisi. “Pinisi itu sangat mahal karena menggunakan kayu besi dan tidak dipaku. Orang luar negeri yang membelinya tidak hanya menggunakan pinisi untuk berlayar, tapi menjadikannya sebagai rumah”, tutur pak Haji. 

Sore itu sangat berkesan dengan kisah dari pak Haji mengenai kehebatan suku Bugis dengan perahu Pinisi yang gagah berani itu. Kabupaten Bulukumba mendapatkan sebutan Butta Panrita Lopi yang berarti bumi pembuat perahu Pinisi. Karena saat itu sedang tidak ada perahu Pinisi yang sedang dibuat, maka saya membeli sebuah miniatur dari perahu Pinisi sebagai buah tangan. Harganya yang kecil sekitar  Rp 50.000,oo dan Brigita membeli yang besar sekitar Rp 120.000,oo. Melalui replica pinisi yang kecil ini dapat terbayang betapa hebatnya Pinisi yang asli jika di lautan. 

Kami melanjutkan perjalanan sore itu menuju Tanjung Bira. Dari Desa Tana Beru menuju Tanjung Bira ditempuh sekitar 20 km. Jalanan menuju kesana sudah berwujud aspal namun memiliki lubang yang sangat banyak. Dudukpun menjadi tidak nyaman dan sangat pegal hasil perjalanan dari Makasar hari itu. Saat itu sudah menjelang maghrib dan jalanan sangat sepi. Kendaraan yang melintas sangat jarang dan dapat dihitung dengan jari. Namun perlahan terlihat laut beserta deru angin malam. Tiba juga kami di Tanjung Bira yang terkenal dengan pantai dan pasir putihnya. Hari sudah gelap dan tiba saatnya untuk beristirahat di penginapan sekitar pantai. 

Keesokan harinya kami menikmati sunrise di pantai tanjung Bira. Pantai yang berada di Kecamatan Bonto Bahari ini memberikan aroma khas pantai dengan pasir putih yang terasa sangat lembut di kaki. Namun sayang pantai yang menjadi tempat wisata ini kurang bersih dengan banyaknya rumput laut yang terbawa ombak ke pantai. Warung-warung di tepi pantai pun kurang terawat. Matahari semakin tinggi, wisatawan lokal maupun manca berdatangan untuk bermain di sekitar pantai. Anak-anak kecil berlarian dan beberapa mencoba wahana banana boat. Karena kami berenam memiliki jiwa adventure yang tinggi dan kurang suka keramaian, kami pun mencoba untuk susur pantai di sekitar tanjung bira. 

Kami menyusuri ke arah barat melewati karang-karang yang tajam. sesekali kami menginjakkan kaki di pantai, namun kami pun sering juga mendapati pantai yang habis dan tergantikan tebing karang. Sehingga mau tidak mau kami harus memanjat tebing tersebut. Cukup sakit memang, namun inilah pengorbanan untuk mendapatkan tempat yang masih sepi, indah, dan jauh dari keramaian. Sepanjang pantai ini terdiri atas tebing-tebing yang tinggi dan di bagian bawah terkikis oleh air laut sehingga banyak celah yang menjorong ke bagian dalam. Banyak sekali terdapat lubang di bawah tebing yang dapat dimasuki oleh orang dewasa. Tempat-tempat seperti ini jika di dalam teknik survival dapat dijadikan sebagai bivak alam yang terbuat dari batu. Enoz menemukan bulu babi yang berwarna cokelat. Selain itu ditemukan pula ubur-ubur di sekitar pantai. Sekitar 30 menit kami menyusuri pantai hingga akhirnya kami menemukan spot yang sangat indah. Tempat ini kami jadikan sebagai sisi pantai Tanjung Bira yang lain dan tidak kalah indah. Langit biru terpantul di lautan. Pasir putih terasa lembut terhempas oleh ombak yang menuju tebing. Tebing-tebing di pantai Bira sangat potensial untuk dijadikan panjat tebing. Tebingnya kokoh berdiri dan dari kemiringan 900 hingga 450. Tempat ini akan menjadi tempat yang indah bila dijadikan tempat untuk panjat tebing dengan nuansa pantai pasir putih dengan laut biru di sekitarnya.

Pesona Sulawesi Selatan tidak hanya dari sektor bahari saja. Terkenal pula suku Kajang yang berada di desa Tana Towa, Kabupaten Bulukumba. Kawan kami Arie yang berasal dari Sinjai tidak jauh dari Bulukumba mengatakan bahwa tidak sembarang orang dapat masuk ke dalam kawasan adat Tana Towa. Bahkan perizinannya bisa hingga tiga hari. Namun kami tetap berangkat menuju ke sana dengan niat baik melakukan kunjungan untuk lebih mengenal kearifan lokal dari suku Kajang. Perjalanan sekitar dua jam dari pantai Tanjung Bira untuk memasuki kawasan desa suku Kajang. Perjalanan menuju ke sana melewati jalanan aspal yang tidak terlalu lebar. Sesekali kami melewati perkebunan warga dan hutan adat. Terlihat pula kuda yang melintas. Warga desa ini sebagian besar memanfaatkan kuda sebagai transportasi untuk mebawa hasil bumi.
 Kami tiba di kawasan desa Tana Towa dan singgah di rumah kepala desa. Untuk memasuki kawasan adat harus melakukan perizinan di kepala desa. Selain itu pengunjung harus menggunakan baju serba hitam untuk memasuki kawasan adat. Tidak heran jika dari tadi terlihat beberapa warga yang melintas menggunakan baju serba hitam. Menurut Ibu Sri Wahyuni, istri Kepala Desa, Suku Kajang ramah dan memiliki kepala adat yang disebut sebagai Ammatoa. “Pengunjung yang datang boleh mengambil gambar, namun dilarang untuk mengambil gambar dari Ammatoa”, ujarnya. 

Kami siap untuk memasuki kawasan adat. Saat memasukinya, kami disambut oleh gerbang dan rumah adat suku Kajang. Kami ditemani oleh Eno, sepupu dari Kepala Desa Tana Towa dan sekaligus kerabat dari Ammatoa. Eno yang seumuran dengan kami dan kuliah di Universitas Hasanudin menjadi penerjemah Ammatoa, karena suku Kajang Dalam berbicara menggunakan bahasa Konjo, bahasa asli suku Kajang. Jalanan berbatu yang membelah hutan di kanan kiri kami susuri. Sesekali terlintas warga yang berbaju hitam dengan parang di sampingnya. Adapula warga yang menggunakan ikat kepala yang tinggi dimana menandakan bahwa orang itu memiliki ilmu yang tinggi. 10 menit berjalan, kami disajikan pemandangan rumah-rumah adat yang bergaya rumah panggung dengan anak-anak kecil yang mengintip di balik jendela. Kuda-kuda berada di samping rumah seakan menjaga majikannya di dalam rumah. 

Kami pun tiba di rumah Ammatoa, ini tandanya saatnya kami berhenti untuk mengambil gambar. Rumah Ammatoa berupa rumah panggung khas Kajang pada umumnya. Namun terdapat keistimewaan, yaitu dapur yang berada di depan rumah. Dapur di depan rumah ini mengandung makna bahwa keluarga Ammatoa akan dengan senang hati menjamu tamu yang datang. Kami menaiki rumah panggung tersebut dan memasukinya. Di dalam terlihat sangat gelap karena suku Kajang tidak menggunakan listrik dan teknologi yang berbau modern. Namun ruangan di atas rumah Ammatoa sangat luas. Terlihatlah Ammatoa yang tersenyum sembari duduk bersila di pojok ruangan. Degup jantung berdetak kencang saat saya disuruh untuk duduk di samping Ammatoa. Namun ternyata tidak seseram yang kubayangkan. Wajahnya ramah dan selalu tersenyum.
 Beliau menceritakan asal usul suku Kajang di desa Tana Towa yang artinya Tanah Tua, tanah yang paling tua. Suku Kajang menganut agama Islam namun memiliki ajaran yang disebut ajaran Patuntung dimana menganut tiga pilar yaitu menghormati Tuhan, tanah pemberian Tuhan, dan nenek moyang.  Ammatoa berkisah saat terpilihnya beliau menjadi kepala adat melalui proses yang sangat panjang. Tuhan Yang Maha Esa lah yang memilihnya. Calon Ammatoa pada saat itu berguguran satu per satu hingga terpilihnya Ammatoa yang sekarang. Suku Kajang hidup dalam peraturan adat sejak dulu hingga sekarang. Sebagian warganya hidup dengan memanfaatkan kekayaan alam di hutan dan bertani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka tidak luput dalam menjaga kelestarian lingkungan. Hutan di sekitar kawasan adat dianggap sebagai ibu bagi mereka yang harus dihormati. Oleh karena itu warga yang melakukan pelanggaran adat seperti menebang pohon maupun mencuri hasil bumi akan diberikan sangsi adat, salah satunya berupa denda dalam real.Keharmonisan alam yang terwujud dari kearifan dari Kajang di desa Tana Towa memberikan inspirasi bagi kehidupan. Hitam yang melambangkan kesederhanaan merupakan representasi atas kukuhnya peraturan adat yang dapat memberikan keseimbangan alam dengan masyarakatnya.



Senin, 18 Juli 2011

Sebuah Asa dalam Pendakian

Banyak orang bertanya apa sebenarnya yang ingin didapatkan saat mendaki gunung? Apakah mendaki gunung hanya untuk mencapai puncak? Apakah mendaki gunung hanya dijadikan sebuah pembuktian kekuatan saja? Apakah mendaki gunung hanya untuk menancapkan bendera organisasi dan mengabadikannya dalam bentuk dokumentasi?
                Pengalamanku saat berkunjung ke tanah kabupaten Kerinci di sebuah daerah bernama Kayu Aro memiliki romansa tersendiri. Bersama keempat sahabatku saat itu ingin mencoba merasakan mendaki tanah tertinggi dari pulau Sumatera. Kerinci, 3805mdpl terlihat tinggi menjulang di depan mata. Pagi hari terlihat puncak Kerinci yang gagah terlihat jelas namun semakin siang dan sore puncak yang terlihat berasap itu tertutup oleh kabut hingga tidak tampak sedikit pun. Saat itu bulan Februari dimana kawasan tersebut berstatus waspada sejak bulan November 2010. Bahkan saat pagi hari terasa goncangan di daerah kawasan Kayu Aro. Pada saat malam hari di puncaknya juga terlihat percikan api yang langsung hilang di kelam malam.
                Hasrat ingin merasakan pendakian tanah tertinggi pulau Sumatera itu menggebu-gebu. Tapi ternyata takdir berkata lain. Perjuangan pendakian hanya dilanjutkan oleh satu orang saja dari kami. Bahkan saat itu tak kuasa airmata jatuh menetes. Dalam hati ini hal ini ibaratkan salah satu kegagalan terbesar dalam hidup. Perjalanan dari Jawa ke Sumatera berjarak ratusan kilometer, dan Kerinci sudah di depan mata namun saat itu memang bukan saatnya bagiku untuk mendaki. Sore hari itu terasa kekecewaan yang mendalam.
                Namun seiring pagi menjelang, kekecewaan pada malam hari itu berganti dengan semangat baru. Sebuah baju terbaik yang memang aku simpan yang tadinya aku pakai di puncak Kerinci aku ambil dari ransel. Baju yang terjahitkan namaku dan berbenderakan organisasi aku berikan kepada seorang sahabatku yang akan berjuang menapaki Kerinci. Ini memang menyalahi aturan organisasiku karena meminjamkan atribut organisasi kepada orang lain. Tapi saat itu aku hanya berfikir realistis, disisi lain, ini hanyalah baju terbersih yang kami punya dan ini sangat berguna jika di atas. Aku menghembuskan nafas dalam-dalam ketika kami berempat meninggalkan salah satu dari kami di tempat jauh tersebut dan dalam hati berdoa, semoga berhasil. Semakin kami meninggalkan tempat itu, semakin hilang pula kekecewaan yang kurasakan tadi malam.
                Memori Kerinci tersebut merupakan pelajaran berharga, dan aku dihadapkan untuk kedua kalinya di tanah tertinggi di Jawa Tengah, gunung Slamet. Gunung Slamet dengan segala ceritanya memiliki keistimewaan tersendiri bagiku. Hawa dingin Desa Blambangan dan asa untuk menapaki puncak bersama keenam temanku saat itu terasa hingga ubun-ubun. Langkah awal sangat berat dan semakin berat ketika tajuk pepohonan menutupi kita dari sinar matahari. Gelap dan kabut saat itu menghalangi pandangan meski saat itu masih di waktu siang. Bahkan medan saat itu benar-benar menanjak dan miring hampir 45 derajat tanpa henti. Aku hanya mengharapkan adanya tanah datar yang bisa dijadikan tempat berpijak yang normal tapi jarang sekali ada.
                Kulihat jauh di belakang salah seorang temanku terlihat lemas dan tidak seperti biasanya. Aku jabat tangannya dan memotivasi supaya bisa tiba di tempat istirahat. Hujan memperparah keadaan saat itu. Kita bertahan dari dinginnya air yang jatuh di balik jas hujan yang kita bawa. Dalam hati ini berharap, Tuhan berikan cerah, berikan sinar matahari di siang hari ini. Hujan berhenti dan kita lanjutkan perjalanan hingga akhirnya di pos tiga.
                Cermin yang sangat besar memantulkan peristiwa Kerinci yang pernah aku alami. Pos tiga adalah tanah tertinggi yang kita daki saat itu. Temanku saat itu dalam keadaan sakit dan benar-benar tidak bisa melanjutkan perjalanan. Aku adalah saksinya pada malam itu dalam berjuang menemaninya saat menahan sakit. Sekali lagi, puncak urung kucapai. Asa untuk mendokumentasikan diri menggunakan baju terbaik di puncak tertinggi Jawa Tengah tertunda. Betapa solidnya kami pada saat itu untuk memutuskan semua tim untuk turun dan membuang asa mengibarkan bendera di puncak. Tidak ada sesal pada saat itu. Sama seperti di Kerinci, semakin aku berbalik meninggalkan puncak, rasa penyesalan pun hilang. Seakan-akan langkahku saat itu semakin ringan. Aku pun menuruni sambil berlari dan melompat-lompat. Rasanya bahagia saat itu meskipun dua kali aku jatuh terguling. Wajah tertawa temanku saat mendapati aku terguling pada saat itu menghilangkan rasa sakit  yang ada.
                Semua itu terbukti tidak berlaku di dalam kamus pendakianku. Aku merasakan sendiri bahwa nikmat pendakian bukan di puncak. Puncak hanyalah hadiah dari sebuah kerja keras dalam mendaki. Susah payah, kerjasama, saling memotivasi itu yang terpenting dalam sebuah pendakian. Banyak esensi dan nilai-nilai yang dapat diambil dalam proses itu. Dua kali aku merasakan perasaan yang sama. Namun apa artinya puncak? Mengharapkan puncak hanyalah sebuah ambisi belaka, untuk melampiaskan obsesi dan untuk mengukur seberapa kuat kita, seberapa hebat kita, seberapa bisa kita. Padahal seharusnya kita harus merendahkan segala ego karena di tanah teratas tersebut kita semakin dekat dengan Pencipta yang jauh lebih kuat, lebih hebat, dan lebih besar daripada kita.

Minggu, 17 Juli 2011

Mengenal Masyarakat Pesisir di Pulau Panggang

Pulau Panggang, merupakan salah satu pulau yang berada di gugusan kepulauan Seribu. Namun biasanya pulau ini bukan merupakan tujuan utama para wisatawan yang datang ke kepulauan Seribu. Pulau Panggang tidak seperti pulau Tidung, Pulau Rambut, ataupun Pulau Semak Daun yang biasanya ramai dikunjungi untuk berwisata. Meski begitu Pulau Panggang memiliki suatu daya tarik yang berbeda dengan pulau lainnya di gugusan Kepulauan Seribu.
                Untuk menuju pulau di gugusan kepulauan seribu dapat dicapai menggunakan kapal. Kita dapat berangkat melalui pelabuhan Muara Angke atau dengan transportasi laut dari Marine Jaya Ancol. Kapal di Muara Angke yang berupa kapal ojek selalu berangkat pagi hari sekitar pukul 06.30 dan siang hari pukul 13.00. Sedangkan di Ancol juga pada pagi hari pukul 06.30 dan siang hari sekitar pukul 11.30. Namun jangan sampai terkecoh bahwasannya sesekali terdapat kapal siang di Muara Angke yang tidak melaut pada siang hari karena tidak ada penumpang. Jika hal ini terjadi maka kita mau tak mau harus menunda perjalanan keesokan hari pada saat pagi.
                Perjalanan pagi menuju pulau Panggang menggunakan kapal dari Marine Jaya Ancol bisa ditempuh dengan kapal cepat sekitar 1 jam 30 menit.  Tempat duduk yang tersedia memang cukup hanya untuk 15 orang saja. Maka tidak heran banyak peraturan yang harus dipatuhi jika menggunakan kapal ini di antaranya tidak boleh membawa barang berat, dan tidak boleh membawa benda yang berbau tajam. Hal ini mencegah rasa pusing akibat ombak laut yang cukup tinggi, dipadu dengan bantingan-bantingan badan kapal yang melaju kencang ke permukaan air laut. Tidak heran jika banyak penumpang yang berdiri untuk mengurangi rasa mual akibat bantingan dari badan kapal.
                Setelah melewati perjalanan sepanjang 74 km, tiba juga di pulau Pramuka. Pulau Pramuka yang dulunya bernama Pulau Elang ini merupakan pusat pemerintahan dari Kepulauan Seribu. Di sini juga terdapat kantor Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKS). Pulau Pramuka ini cukup padat penduduk terlihat dengan banyak rumah. Rumah-rumah tersebut banyak yang dijadikan sebagai homestay untuk para wisatawan yang mengunjungi pulau Pramuka. Jalanan pun terlihat rapi dengan adanya papan jalan di setiap gangnya dan sangat terawat. Selain itu terdapat sekolah dasar, SMP, dan SMA yang memiliki gedung yang bagus. Adapula rumah sakit yang cukup besar dan dijadikan rumah sakit pusat di Kepulauan Seribu. Hal ini melihatkan kemajuan pembangunan di pulau Pramuka sangatlah maju akibat banyaknya pengabdian masyarakat untuk kesejahteraan di pulau Pramuka.
                Pulau Panggang terlihat dari Pulau Pramuka. Dari situ tampak atap-atap rumah yang sangat rapat dan menunjukkan betapa padatnya pulau Panggang. Untuk menuju kesana dapat dicapai 10 menit dengan kapal ojek yang melayani penyeberangan dari pulau Pramuka menuju pulau Panggang dengan biaya Rp 3000,oo tiap orangnya. Sebelum ke Pulau Panggang, kapal ojek mengantar salah satu penumpang ke pulau Karya. Pulau Karya ini merupakan pusat perkantoran dan administrasi. Namun penduduk sekitar juga sering menyebutnya sebagai pulau Makam, karena jika ada lelayu, maka jenazah akan dimakamkan di pulau ini.
                Kapal merapat di pulau Panggang, dan sesuai namanya matahari menyengat tajam seakan-akan memanggang kulit yang sudah kepanasan. Memang benar, rumah-rumah penduduk jauh lebih padat daripada pulau Pramuka. Orang-orang lalu lalang di siang hari yang sangat panas. Jalanan pun terasa sempit saat menuju rumah Bang Bayu, warga pulau Panggang yang akan membantu penginapan. Saat berjalan, terlihat seorang ibu yang berjualan kue basah sambil mendorong gerobaknya dan berjalan berkeliling pulau sambil berteriak kencang menawarkan kue tersebut. Kanan kiri juga terlihat warung-warung yang berjualan sayur mayur namun sudah layu karena kepanasan. Jalanan pun lumayan kotor banyak sampah yang berserakan. Namun hal ini kontras dengan berdirinya masjid yang lumayan besar dan terlihat bersih.
                Setiap kali berjalan tak lupa mengucapkan salam kepada warga sekitar. Ternyata mereka juga akan membalas dengan salam pula. Tidak ada wajah sombong dan angkuh dari masyarakat pesisir yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan. Tadinya ada slentingan bahwa masyarakat pesisir cenderung sering teriak-teriak sehingga dianggap kasar. Memang begitu adanya, logatnya berbeda dengan masyarakat jakarta, namun tidak termasuk kasar. Karena rumah mereka sangat berdekatan, maka tidak heran jika mereka kenal satu sama lain. Di masyarakat pulau ini terdapat suatu budaya pernikahan. Dalam pernikahan masyarakat pulau selalu dirayakan dengan alunan musik dangdut semalam suntuk. Bahkan pada pagi hari terdapat pengantin wanita yang diarak keliling kampung dan dibimbing oleh dua orang ibu-ibu sebagai sanak familinya. Pengantin wanita itu terharu saat diarak  hingga meneteskan air mata. “Iya, pengantinnya sudah tidak memiliki ayah. Ayahnya baru saja meninggal”, begitu kata salah seorang warga.
                Masyarakat Pulau Panggang yang sebagian besar menjadi nelayan ini memiliki karamba ikan di laut. Mereka kebanyakan budidaya ikan kerapu yang berjenis kerapu bebek (Chromileptes altivelis). Kerapu bebek ini berwarna cokelat dengan bintik-bintik hitam yang menyebar di sekujur tubuhnya. Ada pula ikan kerapu lodi  (Plectomorphus leopardus) yang memiliki bintik berwarna biru terang. Ikan kerapu ini dibudidayakan dengan teknik jaring apung. Budidaya ini tergolong susah karena ikan akan mencapai ukuran besar dan siap dipasarkan dengan waktu yang tergolong lama, bahkan bisa satu tahun lebih. Maka tidak heran jika satu kilogram ikan kerapu memiliki harga sekitar Rp 350.000,oo. Budidaya ikan sampai saat ini mengalami kesulitan karena berbagai faktor. Di antaranya pencemaran air laut di sekitar pulau Panggang. Hasil penelitian memperlihatkan kadar nitrogen yang tinggi di perairan laut Kepulauan Seribu. Selain itu rawan pencurian ikan. Salah satu nelayan mengaku saat itu terdapat beberapa ikan hilang akibat pencurian yang dilakukan pada malam hari. Hal ini sangat mengganggu dalam kegiatan budidaya.
                Bagaimanapun nelayan merupakan matapencaharian masyarakat pesisir pulau Panggang. Pulau dengan kepadatan penduduk yang semakin hari semakin meningkat. Namun inilah sebuah cerita mengenai pulau Panggang. Sebuah cerita tidak harus terus menerus mengenai keindahan. Namun sosialita dan lingkungan dapat pula dinikmati. Apalagi senyum ramah dari kulit gosong nan keriput dari seseorang merupakan memori yang selalu terpatri dalam ingatan.

Rabu, 16 Maret 2011

Senja yang Tak Sama


Ketika di tempat nun jauh di sana
Saat kuhirup nafas pagi
Bersamaan dengan menyingsingnya matahari
Terlihat begitu indah menenagkan jiwa.

Ketika ku lihat keesokan hari
Ternyata masih indah
Langit malam yang terganti dengan kuningnya matahari
Yang menghiasi birunya laut yang tadinya kelam

Namun mengapa semua ini begitu berbeda
Ketika aku sampai di kota
Fajar yang seharusnya begitu indah
Tergantikan dengan hawa panas, menyengat, dan lengket

Kota,
Orang-orang hanya dapat bertahan karena mesin pendingin
Hanya dapat bertahan dengan mesin pengantar
Kota bagaikan saudagar kaya yang penyakitan
Yang miskin akan kebahagiaan

Mengapa ini bisa terjadi
Padahal matahari hanya satu
Yang terbit dari timur dan tenggelam ke barat
Namun begitu berbeda nyata dilihat dari kedua sisi

Jarak bukan menjadi alasan
Karena keindahan hanya dapat dilihat dengan hati yang murni
Dengan jiwa yang bersih
Serta iringan sebuah symphony
Yang menjadikan matahari yang hanya satu
Dapat terlihat indah dari berbagai sisi

Arya, 16 Maret 2011